Leisha Patidar dan viral FIFA reel yang memikat

Ilustrasi fifa reel untuk artikel Leisha Patidar dan viral FIFA reel yang memikat

Leisha Patidar berhasil menarik perhatian luas dengan FIFA reel yang menggabungkan kecantikan dan antusiasme sepak bola. Seri bertema FIFA itu mengangkat bendera negara dan dukungan penggemar menjadi konten makeup tanpa meninggalkan identitasnya sebagai kreator kecantikan.

Ilustrasi fifa reel untuk artikel Leisha Patidar dan viral FIFA reel yang memikat

Video dari rangkaian yang dimulai pada 9 Juni ini melejit dan salah satu unggahan meraih lebih dari 27,6 juta views organik dalam 18 jam. Keberhasilan itu membuka dialog baru tentang bagaimana olahraga bisa dipakai sebagai bahasa visual dalam konten kecantikan.

Kisah di balik konsep dan proses pembuatan

Patidar, pembuat konten yang berbasis di Mumbai, mengatakan ide itu lahir dari kebiasaan keluarga dan pengalaman menonton pertandingan besar. “I love combining beauty with anything people don’t even expect,” ujarnya, menjelaskan keinginannya untuk menggabungkan dua dunia yang tampak berbeda.

Dia menambahkan, “Instead of just supporting the team in a traditional way, I wanted to create makeup looks inspired by different countries’ flags.” Konsep itu kemudian diwujudkan lewat transformasi makeup yang dipadukan musik energetik dan referensi pemain internasional sehingga mudah menyebar ke berbagai audiens.

Proses produksi tidak selalu mudah. Untuk satu video dalam seri FIFA, Patidar menyebutkan memerlukan delapan jam pengambilan gambar, sementara seluruh set look diselesaikan selama tiga hari. Dia bahkan merekam beberapa konten meski tubuhnya sedang tidak fit: “I had 103 fever. I was super sick. But after looking at the videos, nobody told me that I was looking sick. I was enjoying that moment,” katanya.

Respons, tantangan, dan pembangunan komunitas

Seri ini menjangkau lebih luas dari audiens kecantikan dan fashion yang selama ini mengikuti Patidar. “After posting about FIFA, I got a massive following from men. It combined two genres together and created something new,” ujarnya, menggambarkan perpaduan yang berhasil memperluas demografi pengikutnya.

Perjalanan kariernya juga tidak lepas dari kritik. Patidar mengaku pernah menerima komentar negatif terkait warna kulitnya saat mulai berkarya. “I am a dusky skin tone girl from India. I used to get a lot of hate in my comment section about me being dusky and why I should do makeup,” kata dia. Meski sempat terpengaruh, dukungan audiens membuatnya bertahan: ada pengikut yang menjadikannya inspirasi untuk memulai perjalanan menjadi kreator sendiri.

Pandangan tentang tren, brand, dan masa depan

Pada ranah ekonomi kreator, Patidar memperingatkan agar tidak hanya bergantung pada tren pendek. “You need to be your authentic self to capture those first three seconds or else people will scroll,” tegasnya, sambil menambahkan, “There will be 15 or 20 trends coming in a week. You cannot hop on every single one just to be relevant.”

Soal kerja sama merek, ia mengatakan peluang kini lebih selektif dan menuntut kecocokan nilai. “I personally work with brands that align with my audience and my authenticity,” ujarnya. Untuk urusan pengelolaan karier, Patidar menilai agen atau tim membantu membuka kesempatan yang tidak bisa ditangani seorang kreator sendiri: “A creator is creating, editing, styling and being behind the camera. You need somebody to support you beyond that, for brands or bigger opportunities.” Dia menyebut dikelola oleh Monk Entertainment sejak awal karier dan menilai pengalaman itu positif.

Melihat ke depan, Patidar menyatakan ingin memperluas konten ke lifestyle, travel, food, dan vlogging di YouTube, serta berencana membangun usaha di luar media sosial meski belum merinci bentuknya. Dia juga terbuka dengan peluang berakting di web series atau film. Kendati viralitas penting, pilihan utamanya jelas: “A viral reel with my loyal community.”

Recommended Articles