Leisha Patidar: dari makeup ke reel FIFA yang viral

Ilustrasi leisha patidar untuk artikel Leisha Patidar: dari makeup ke reel FIFA yang viral

Leisha Patidar menjadi sorotan setelah rangkaian video bertema FIFA yang ia unggah menarik perhatian luas. Leisha Patidar berhasil menggabungkan dunia kecantikan dengan simbol-simbol sepak bola, sehingga konten itu melampaui audiens kecantikan dan fashion yang selama ini menjadi basis pengikutnya.

Ilustrasi leisha patidar untuk artikel Leisha Patidar: dari makeup ke reel FIFA yang viral

Reel yang dimulai pada 9 Juni ini sempat meraih lebih dari 27.6 juta tampilan organik dalam 18 jam, membuka diskusi tentang bagaimana kreativitas dan identitas konten dapat memanfaatkan momentum olahraga tanpa meninggalkan ciri khas pembuatnya.

Konsep dan keberhasilan reel FIFA

Ide Leisha muncul dari keinginan untuk menggabungkan makeup dan elemen yang tak terduga. Ia menyatakan, “I love combining beauty with anything people don’t even expect.” Alih-alih sekadar mendukung tim secara tradisional, ia memilih membuat look makeup terinspirasi dari bendera negara dan fandom sepak bola. Pendekatan visual ini memadukan transformasi makeup, selebritas sepak bola internasional, dan musik enerjik sehingga video mudah tersebar lintas batas.

Leisha sudah aktif membuat konten sejak 2020, namun serial FIFA 2026 menjadi titik di mana kontennya menjangkau khalayak baru. Dengan pengikut lebih dari 1 juta, ia mengatakan pengalaman itu membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi bahasa visual tanpa membuatnya kehilangan identitas sebagai kreator kecantikan.

Tantangan pribadi dan reaksi audiens

Perjalanan Leisha bukan tanpa kritik. Sejak awal berkreasi ia menerima komentar negatif terkait warna kulitnya. Ia mengungkapkan, “I am a dusky skin tone girl from India. I used to get a lot of hate in my comment section about me being dusky and why I should do makeup.” Pengalaman tersebut sempat memengaruhi kondisi mentalnya, namun dukungan pengikut membantu ia bertahan. “There are girls who find me their inspiration and who started their content creation journey,” ujarnya, menyatakan bagaimana komunitas mendukung kelanjutan kariernya.

Selain haters, reel FIFA juga mendatangkan audiens pria yang baru, sehingga Leisha melihat perpaduan dua genre (beauty dan sport) sebagai faktor yang memperluas daya tarik kontennya. Momen itu terasa lebih berharga karena menurutnya eksperimen itu genuine—ia tumbuh di lingkungan keluarga dengan banyak kerabat laki-laki yang gemar debat soal olahraga.

Kreativitas, tren, dan pilihan kemitraan

Leisha menegaskan bahwa kreator tidak bisa hanya mengandalkan tren. Menurutnya, perhatian penonton sering ditentukan dalam beberapa pertama, dan orisinalitas menjadi kunci. “You need to be your authentic self to capture those first three seconds or else people will scroll,” kata Leisha, seraya menambahkan bahwa tidak mungkin mengikuti semua tren yang bermunculan setiap minggu.

Soal kerja sama komersial, Leisha mencatat bahwa brand kini lebih selektif. “Earlier, it wasn’t hard to get a lot of brand deals. Now brands have become very picky about whom they want to work with and what benefit they are getting out of it,” ujarnya, dan menegaskan ia hanya bekerja dengan merek yang cocok dengan audiens dan keasliannya. Sejak awal kariernya Leisha dikelola oleh Monk Entertainment, yang menurutnya memberi dukungan penting di luar proses kreasi.

Ia juga membantah anggapan bahwa pembuatan konten selalu mudah. Satu videonya bisa memakan waktu delapan jam untuk syuting, sementara keseluruhan rangkaian look selesai dalam tiga hari. “People don’t know that part of your side. They can easily say anything, but you know it, God knows it and your team knows it,” ujarnya.

Ekspansi dan konsistensi ke depan

Ke depan, Leisha ingin memperluas jangkauan kontennya—meliputi lifestyle, travel, food, dan vlog YouTube—serta menjajaki peluang bisnis di luar media sosial. Ia menyatakan terbuka terhadap kesempatan akting di web series atau film, namun menegaskan bahwa pembuatan konten akan tetap menjadi bagian dari dirinya.

Kesetiaan terhadap rutinitas menjadi fondasi kariernya. “I have been working since I was 17. Just showing up every single day, even if you don’t feel like it,” kata Leisha, merangkum filosofi yang menurutnya lebih berpengaruh daripada satu momen viral. Ditanya memilih viral reel dan komunitas setia, jawabnya singkat: “A viral reel with my loyal community.”

Recommended Articles